Selasa, 08 Juni 2010

Realitas: Sebuah Ilusi Belaka

Setiap tindakan dan semua materi yang berkembang di alam semesta menyesuaikan diri dengan yang kita ketahui sebagai realitas. Gagasan bahwa alam semesta ini berjalan seperti sebuah mimpi, atau seperti sebuah produk dari program realitas maya yang sangat kompleks, lebih menyerupai naskah fiksi ilmu pengetahuan daripada dunia kasar dan tidak sempurna yang kita tinggali setiap hari.

Tetapi, kenyataan yang terlihat oleh kita ini kelihatannya berlawanan dengan logika ilmiah, jika kita menyadari bahwa materi tidaklah eksis. Konstruksi blok materi yang dapat terlihat ini adalah susunan atom, yang mana adalah nuklei kecil di tengah kekosongan yang luas, dikelilingi oleh partikel yang tidak terlihat oleh mata (elektron) yang mengelilingi orbit dengan kecepatan luar biasa. Jika badan kita dilihat dibawah mikroskop yang sangat kuat, yang terlihat adalah mungkin lautan butiran pasir yang terus bergerak.

Menurut penelitian terbaru di bidang quantum ilmu fisika, semua yang kita ketahui sebagai materi, semen padat yang terlihat nyata adalah terdiri tidak lebih dari fluktuasi kuantum di tengah alam semesta yang kosong.Sekelompok pakar fisika yang dipimpin oleh Dr Stephen Durr dari John Von Neumann Institute di Jerman memastikan bahwa jumlah ketiga partikel sub-atom yang terdiri dari proton dan neutron (dinamakan quarks) hanyalah melambangkan 1 persen dari total massa mereka.

Bukti seperti itu menyarankan bahwa sisa dari massa nuklir adalah terdiri dari gluons, partikel sementara yang menggelembung di tengah kekosongan, yang berfungsi untuk memelihara kesatuan antara trio quark di dalam proton dan neutron. Fakta ini menyiratkan adanya hipotesa bahwa kenyataan nyata mungkin hanyalah fluktuasi belaka dari sebuah kekosongan atau secara murni tidak ada.

Kenyataan lain

Apa yang terlihat dengan mata fisik kita adalah sangat dikurangi hingga level yang nyaman untuk mata manusia. Mempunyai sepasang mata yang hanya bisa melihat partikel renik akan membuatnya mustahil bagi kita untuk bergerak di dunia dengan benda begitu besar, karena benda yang biasanya berinteraksi secara umum adalah terdiri dari milyaran partikel yang sangat renik.

Menurut pakar biologi Richard Dawkins, bebatuan hanya terasa keras dan tak dapat ditembus dengan tangan kami, mereka saling tidak bisa menembus. Bagi kita, konsep kekerasan dan kepadatan adalah penting karena membantu navigasi kita di dunia.

Navigasi adalah realitas yang penuh ilusi, kita harus menerima kenyataan bahwa di alam semesta lain, realitas lain mungkin saja ada. Bisa saja ada dunia impian, gelembung gila, atau Tuhan.

Karena realitas partikel tidak mungkin lebih daripada kepulan asap dan bayangan, bisa saja eksistensi sebenarnya dari semua objek di kosmos terdapat pada satu atau beberapa tempat paralel. Banyak ilmuwan berspekulasi tentangnya, seperti benda tiga dimensi bisa memperlihatkan bayangan dua-dimensi di tanah, alam semesta multidimensi (seperti kasus teori String) bisa membentuk bayangan di tempat tiga dimensi.

Jika teori ini benar, setiap objek dan organisme di dunia ini tidak lebih dari gambaran kasar dari sebuah obyek dan organisme di alam semesta yang lebih "nyata". Serupa dengan teori ini, keberadaan pikiran extracorporeal di dimensi lain mungkin adalah penjelasan ideal mengapa kita mempunyai memori, karena atom di otak kita digantikan ratusan kali selama hidup kita. Menurut Dawkins, tak ada satu atom pun yang menciptakan tubuh kita sekarang ada pada tubuh kita pada masa kecil yang kita ingat.

Steve Grand, pengarang Creation: Life and How to Made It, mennyimpulkan bahwa materi pindah dari satu tempat ke lainnya dan bersatu kembali untuk sementara sehingga tercipta diri Anda. Karena itu Anda bukanlah terbuat dari materi asal waktu tercipta. Ini berarti bahwa tubuh sejati kita beada di tempat yang tidak kita ketahui, sementara tubuh maya, sebuah wadah semata, terdapat di tempat yang kita sebut kenyataan. (Leonardo Vintini/The Epoch Times/pls)

Sumber : era Baru net

0 komentar:

Posting Komentar